Professional-Amanah-Santun (PAS)

Jumat, 18 Januari 2013

Filosofi Hiu Dalam Kehidupan

Posted by Agustiawan On 16.00 No comments

Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sdh diawetkan dgn es..

Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dlm perjalanan menuju daratan salmon2 tsb tetap hidup. Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yg mati di kolam buatan tsb..

Bagaimana cara mereka menyiasatinya..?? Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tsb..
Ajaib..!!
Hiu kecil tsb "memaksa" salmon2 itu terus bergerak agar Jangan, sampai dimangsa. Akibatnya jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit..!!

Diam membuat kita mati..!

Bergerak membuat kita hidup...!!

Apa yg membuat kita diam??
Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman..
Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati..!!

Ironis, bukan..??

Apa yg membuat kita bergerak..??

Masalah..
Pergumulan.. dan
Tekanan Hidup..

Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu..

Disaat-saat seperti itu biasanya kita akan ingat Allah SWT dan berharap kepada-Nya.
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kita pun menjadi berkembang luar biasa..

Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup..

Itu sebabnya syukurilah "hiu kecil" yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive..

Masalah hidup adalah baik, karena itulah yg membuat kita terus bergerak. Mungkin hiu-hiu kecil itu bisa berbentuk siapa saja dalam hidup kita, :)

Mudah2an cerita diatas memberikan inspirasi bagi kita semua...

Selamat beraktivitas di akhir pekan ini.

Optimisme Kader Dakwah

Posted by Agustiawan On 08.30 No comments

Taujihat ini ditujukan kepada seluruh prajurit dakwah dimanapun berada, yang pantang mengenal lelah walaupun harus mendaki gunung dan mengarungi lautan agar keharuman dakwah Islam dinikmati seantero dunia

Masih amat membekas di benak kita kisah tentang keteladanan seorang penggembala kambing di zaman Khalifah Umar ra. Inilah sosok pemuda yang akan terus menjadi ‘icon’ dakwah sepanjang masa. Betapa tidak, di tengah himpitan dan kerasnya pergulatan hidup ini tidak sekeping pun dari keimanannya, keyakinannya digadai, ditukar atau bahkan dijual demi mendapatkan kenikmatan hidup yang sesaat ini. Yang menarik dari kisah ini adalah kata kunci yang menjadi eye catching dari keseluruhan kisah ini yaitu “fa aina Allah?”. Kalimat sederhana itu mengalir dari lidah tegar penuh optimis seorang mukmin sejati. Kalimat “fa aina Allah”’ itu tidak dialamatkan untuk mencuri perhatian Khalifah Umar ra. atau sengaja ditujukan untuk mencari muka --carmuk-- seperti yang sering dipertontonkan kebanyakan masyarakat di negeri ini saat kunjungan para pejabat ke mereka. Dia tidak lahir begitu saja, akan tetapi kalimat spektakuler ini dilafalkan dari sanubari hati yang paling dalam karena mahabbah kepada Allah swt.

Demikianlah sikap kita dalam menjalani kehidupan dakwah ini. Sepanjang kultur “fa aina Allah” telah meresap dalam-dalam pada diri kita, inilah modal awal kita membangun optimisme dakwah. Bayangkan, seorang penggembala kambing yang hidup di tengah gurun, jauh dari pantauan siapa pun, tidak tersentuh teknologi tinggi --350 tahun lalu-- mampu merekonstruksi ma’iyatullah begitu indah. Sudah barang tentu tidak sulit bagi kita merekonstruksi dan menghayati nilai-nilai ma’iyatullah di era teknologi informasi sekarang ini. Allah swt. sudah pasti dan selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beramal, bergerak, berjuang, dan berjihad demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Keyakinan ini sudah selayaknya menghujam pada diri kita, “Intanshurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.” (Muhammad: 7); “Alladziina jaahadu fiina lanahdiyannahum subuulana wa innalaaha la ma’al muhsinin.”(Al-Ankabut: 29).

Ma’iyatullah harus diartikan bahwa perjuangan menegakkan dien yang hak melalui jalan dakwah dengan ahdaf dan qararat di dalamnya pasti didukung, ditolong, dan dibela Allah swt. beserta bala tentaranya. Inilah fondasi dalam merangkai optimisme untuk memetik kemenangan demi kemenangan di jalan dakwah ilallah. Tidak boleh sedikit pun terbesit keputusasaan, pesimistis dan kehilangan harapan di dalam diri kita. Bahkan, sifat seperti ini dilarang Allah, “...walaa tahinuu fibthigho’il qoum…(An-Nisaa’: 104). Ma’iyatullah selalu berbuah ta’yidullah. Artinya, dukungan dan pertolongan berupa apa saja pasti Allah berikan kepada pembela, penolong, dan penegak dienullah ini.

Tidak boleh ada keraguan bagi kita. Dakwah ini, cepat atau lambat, Allah swt. akan perlihatkan kemenangan itu dengan kita saksikan sendiri atau kita sudah bersaksi di hadapan Allah. Kesertaan dan penyertaan Allah dalam kehidupan ini mesti tercermin dalam setiap gerak-gerik kita. Untuk itu perlu muhafazhah atau penjagaan ma’iyatullah ini agar tetap berada di sekitar kita. Isyarat-isyarat kemenangan banyak Allah swt. paparkan di dalam Al-Qur’an al-karim, salah satunya adalah dalam surat Al-Anfaal: 45-47. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.\" Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Inilah dhawabith yang akan senantiasa menjaga mai’yatullah kita.

1.Bersikap tsabat.
Kehadiran, keterlibatan, dan keterikatan kita dalam dakwah ini adalah pilihan sekaligus iradah Allah. Artinya, kita secara sadar dan penuh kesadaran telah memilih jalan ini, untuk kemudian tekad suci ini bertemu dengan kemauan dan kehendak Allah. Jadilah dia sebuah ketegaran, keteguhan, tsabat yang tidak mudah diguncang oleh kekuatan sebesar apapun kecuali oleh sang Pemilik kekuatan itu sendiri. Inilah jamaah dakwah yang kita telah beriltizam di dalamnya. Kita patuhi amarannya, baik dalam susah ataupun senang, baik dalam keadaan lapang atau pun sempit. Bergerak, berputar bersama jamaah ini kemana pun dia bergerak menuju ridha Allah SWT dengan pencapaian ahdaf sebesar-besarnya hingga tegaknya khilafatullah fil ardh.

2. Banyak-banyak dzikrullah.
Sikap tsabat mengantarkan seseorang untuk senantiasa dzikrullah, mengingat perintah-Nya, mengingat larangan-Nya, membesarkan asma-Nya, menyucikan dzat-Nya dan memuji kebesaran-Nya. Kesibukan dzikrullah akan mengantarkan kita pada ma’unah Allah SWT. Bahkan, akan menenteramkan jiwa kita sebagai modal dalam menghadapi tantangan, rintangan, dan halangan di jalan dakwah, “...ala bidzkrillahi tathma’innal quluub…. Dzikrullah akan membawa pelakunya menjadi a’dho yang qonaah atas setiap keputusan dan kebijakan jamaah karena dia akan selalu husnudz-zhan dan berpikir positif. Sikap ini tentunya dilanjutkan dengan kreasi-kreasi dalam menjalankan amr jama’ah.

3. Taat kepada Allah SWT dan kepada Rasul SAW. 
Faktor kemenangan dakwah ditandai dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ma’rakah Badr menjadi monumen kemenangan tentara kebenaran dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasul. Sebaliknya, di perang Uhud inflasi ketaatan telah berakibat kekalahan. Oleh karena itu, jangan pernah kita menganggap remeh, mudah, bahkan meninggalkan ketaatan itu.

4. Tidak Berbantah-bantahan (adamut tanaju).
Prinsipnya, berbeda pendapat adalah biasa. Tapi, menjadi tidak biasa ketika perbedaan pendapat tersebut teraktualisasi menjadi friksi-friksi atau benturan-benturan kepentingan yang tidak lillah yang pada gilirannya akan berakhir dengan terbentuknya faksi-faksi, atau kelompok, atau golongan. Itulah yang tengah terjadi dalam masyarakat negeri ini. Untuk itu, soliditas struktural dan personal menjadi hal mutlak dalam menjalankan dakwah. Bagaimana mungkin terbentuk wihdatul ummah sementara tidak terjadi wihdatul shufuf di kalangan pejuang Islam sendiri. Alhamdulillah, jama’ah kita diberkahi Allah SWT dengan orang-orang yang sadar akan hal tersebut sehingga matanatut tanzhimiyah terjadi di jamaah kita ini.

5. Bersabar.
Allah SWT menyuruh kita agar bersabar dalam segala hal, termasuk dalam dakwah. Akan tetapi, yang jauh lebih penting agar kita tetap sabar dalam menghadapi musibah kehidupan seperti kematian orang yang kita cintai, jatuh ke lembah papa setelah mengalami hidup layak, atau perasaan takut bahwa hal tersebut akan menimpa kita. Ini diterangkan oleh Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 155, "Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Kabar gembira buat orang yang bersabar, "Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun. (Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.)" (Q.S. 2/Al-Baqarah: 156). Adapun balasan bagi orang yang sabar adalah keberkahan, kesempurnaan, rahmat dan petunjuk dari Allah. \"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.\" (Q.S. 39/Az-Zumar: 10). Allah SWT akan mencukupkan pahala bagi orang yang sabar itu tanpa batas. Kemenangan Rasulullah SAW dalam perjuangan menegakkan Islam adalah buah dari kesabaran.

6. Tidak takabur (‘adamul bathr).
Ingat, kekalahan kaum muslimin di perang Hunain justru di saat kaum muslimin berperang dalam jumlah pasukan yang besar. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (Q.S. 9 /At-Taubah: 46). Penyebab kekalahan tersebut dikarenakan sifat ujub berlebihan. Yang terpenting bagi kita adalah menggiring sambutan, julukan dan gelar masyarakat tadi menjadi benar-benar memenangkan partai ini pada pemilu mendatang.

7. Ikhlas (‘adamu riya’).
Ikhlas, titik. Itu mungkin kata kunci yang akan menyelamatkan amal kita di akhirat kelak. Inilah sifat yang amat dikhawatiri para sahabat Rasul SAW. Termasuk kekhawatiran Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang hal ini, sehingga beliau senantiasa berdoa dan berlindung dari sifat riya’ ini, “Allahumma inna naudzu bika min annusyrika bika syai’an na’lamuh wa nastaghfiruka lima laa na’lamuh.” Ikhwah dan akhwat fillah rahimakumullah, Demikianlah, sejatinya mai’yatullah itu akan menumbuhsuburkan optimisme dalam diri kita dalam menyongsong kemenangan dakwah. Terlebih, ketika ma’iyatullah itu dibingkai dalam akhlak harakiyah yang tercermin dalam Surat Al-Anfal di atas. 

Wallahu a'lam

Memang Hanya PKS

Posted by Agustiawan On 00.37 No comments

Oleh : Cahyadi Takariawan

Beberapa hari lalu tersiar berita di media massa bahwa hanya PKS partai yang anggota DPRnya tidak tersangkut korupsi. Bukan hanya itu saja yang hanya PKS. Masih ada banyak lainnya.

1. Hanya PKS partai yang memiliki sistem tarbiyah, dan selalu diperbarui sesuai kebutuhan dan perkembangan keadaan

2. Hanya PKS partai yang memiliki sistem kejama'ahan, sebagai realisasi dari syumuliyatul islam dan syumuliyatud da'wah

3. Hanya PKS partai yang meletakkan asas kefahaman dan keikhlasan sebagai pondasi beraktivitas, dimana diatasnya dibangun 8 nilai keutamaan lainnya

4. Hanya PKS partai yang dirawat dengan penuh cinta kasih oleh para murabbi dan murabbiyah, dan selalu mencetak murabbi / murabbiyah baru melalui Sekolah Murabbi.

5. Hanya PKS partai yang sangat peduli keluarga. Punya biro pembinaan keluarga, Rumah Keluarga Indonesia, biro perjodohan anggota, tarbiyah anak kader, dan berbagai perangkat pembinaan keluarga lainnya

6. Hanya PKS partai yang memiliki sistem komando sampai ke tingkat anggota, dimana instruksi bisa sampai kepada setiap anggota dengan tepat.

7. Hamya PKS partai yang selalu berusaha membersihkan diri dengan berbagai mekanisme penjagaan. Ada bidang Kaderisasi, ada Lembaga Tahkim, ada Dewan Syari'ah, ada BPDO, yang dibentuk sebagai bagian mekanisme penjagaan dan pembersihan

8. Hanya PKS partai yang memiliki proposal pengelolaan negara dan masyarakat secara tertulis, yang dirangkum dalam Platform Pembangunan PKS.

9. Hanya PKS partai yang tidak sekedar berorientasi urusan dalam negeri, namun memiliki visi peradaban komprehensif sehingga peduli dengan perkembangan seluruh bagian dunia

10. Hanya PKS partai yang dilengkapi dengan penjagaan fisik, akal dan mental untuk anggota. Ada sarana nadwah, mabit, mukhayam, kepanduan, tilawah, shaum, tahfizh, daurah, rihlah dan lain sebagainya.

11. Hanya PKS partai yang peduli pemberantasan korupsi. Hal ini dibuktikan dengan tidak  adanya anggota DPR dari PKS yang terlibat korupsi.

12. Hanya PKS partai yang solid dan tidak berpercah belah, walaupun ada banyak perbedaan pandangan dan perbedaan sikap dalam menghadapi situasi dan kondisi yang terus berkembang.

13. Hanya PKS partai yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, namun hanya sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu terwujudnya visi peradaban komprehensif.

14. Hanya PKS partai yang memiliki lantunan doa serta wirid yang dibaca setiap saat oleh semua anggotanya. Doa dan wirid ini telah mengikat serta menyatukan hati dan perasaan semua anggota sehingga tidak terpecah belah.

15. Hanya PKS partai yang anggotanya memiliki loyalitas dan ketaatan yang penuh. Seluruh taklimat dan instruksi segera tersampaikan dan terlaksanakan dengan baik.

Memang hanya PKS.

Khutbah Jum'at : Jangan Sampai Amal Beterbangan Laksana Debu

Posted by Agustiawan On 00.27 No comments


إِنّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Demikianlah Rosulullah Saw mengajarkan kepada kita, tiap kali mengawali khutbah, beliau sentiasa mengingatkan para sahabatnya untuk terus memuji Allah Swt, mengirim sholawat ke atas nabi dan  berwasiat masalah Taqwa.

Hadirin yang dimuliakan Allah Swt,

Mari kita terbangkan imajinasi kita! Saat Rosulullah Saw berkhutbah, ada siapa saja yang hadir dalam majelis mingguan tersebut? Ya, di hadapan beliau ada sahabat-sahabat besar nan mulia seperti Abu Bakar Ra, Umar bin Khotob Ra, Utsman bin Afan Ra, Ali bin Abu Thalib Ra dan lain sebagainya.

Lihatlah, di hadapan sahabat-sahabat yang sebagian sudah dijamin masuk surga, Rosulullah Saw tetap saja mengingatkan kepada mereka "Bertaqwalah kamu kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya Taqwa, dan janganlah mati kecuali dalam keadan muslim". Padahal, kurang taqwa apa Abu Bakar? Kurang Islam apa Ali bi Abu Tholib? Namun Rosulullah Saw tetap mengingatkan masalah Taqwa dan Islam kepada mereka. Hal in jelas memberi pesan kepada kita, tentang betapa pentingnya persoalan Taqwa di hadap Allah Swt. Untuk itu, marilah kita jadikan momentum Ibadah Jum'at kali ini untuk terus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt.

Hadirin yang dimuliakan Allah Swt,

Marilah pada Jum'at kali ini, kita tengok kembali, apakah amal-amal yang selama ini kita lakukan,  sudah memiliki kriteria sebagai amal yang diterima oleh Allah Swt. Pada Qur'an Surat Al Furqon ayat 23, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
Para mufasirin berpendapat bahwa ayat tersebut berkenaan dengan keadaan yang akan dialami oleh orang-orang kafir di hari pembalasan kelak. Boleh saja orang-orang kafir semasa hidupnya berbuat begitu rupa kebaikan; mungkin mereka menjadi pekerja sosial, aktivis lingkungan, senantiasa baik terhadap tetangga dan sebagainya. Namun berapapun kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, besok di yaumil akhir, Allah Swt akan menjadikan amal-amal tersebut laksana debu yang berterbangan, tidak tersisas secuilpun.
Dalam perspektif Islam, Syahadat merupakan syarat mutlak bagi diterimanya sebuah amal. Tanpa ada persaksian bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rosul/utusan Allah, maka seberapapun amal seseorang, semuanya akan tertolak. Hal ini mirip seperti seorang peserta lomba lari saat perayaan Agustusan, betapapun lari kita begitu kencang, hingga pada akhirnya kita mencapai garis finis paling depan, namun jika kita belum mendaftarankan diri sebagai peserta lomba kepada panitia, maka kemenangan kita akan sia-sia. Tetap saja kita tidak akan memperoleh piala, karena kita tidak terdaftar sebagai peserta. Demikianlah kira-kira perumpamaan amalan orang-orang kafir.
Bahkan, kalaupun kita sudah menjadi seorang muslim-sudah bersyahadat- amal kitapun tidak begitu saja langsung diterima oleh Allah Swt. Agar amal seorang muslim diterima oleh Allah Swt, harus ada syarat-syarat yang dipenuhi. Syarat tersebut adalah :

1. Amal yang ikhlas karena Allah Swt
Rosulullah Saw menyindir orang-orang yang berhijrah ke madinah namun tidak ikhlas karena Allah Swt. Beliau bersabda :

عن أمير المؤمنين أبي حقص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” رواه إماما المحدثين أبو عبدالله محمد ابن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري،  وأبو الحسين مسلم بن الحجاح بن مسلم القشيري في صحيحيهما اللذيب هما أصح الكتب المصنفة

Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah berkata: Saya pernah mendengar Rosuulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niyatnya, dan bagi seseorang tergantung apa yang ia niyatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rosulnya [mencari keridhoannya] maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosulnya [keridhoannya]. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu tertuju kepada yang dihijrahkan.”
Keikhlasan adalah barang yang teramat mahal dan susah diperoleh. Butuh latihan yang serius untuk menghasilkan pribadi yang ikhlas. Hal ini karena ikhlas sangat berkaitan dengan bersitan hati yang paling dalam. Hanya kita dan Allah Swt saja yang paling tahu apakah amal kita benar-benar ikhlas. Ikhlas sama sekali tidak dapat diwakili oleh perkataan lisan ataupun ekspresi perbuatan.
Secuilpun…Ikhlas tidak berkaitan dengan pengakuan lisan ataupun ekspresi perbuatan
Ikhlas dengan demikian tidak ada hubungannya antara diumumkan ataupun tidak diumumkannya suatu amal. Beberapa orang mengibaratkan ikhlas dengan sebuah perumpamaan yang kurang tepat, meraka mengatakan bahwa yang namanya ikhlas adalah seperti ketika kita buang air di kamar mandi, kita nyalakan kran air terbuka cukup kencang sehingga tidak ada orang yang bisa mendengar bunyi aktivitas BAB yang kita lakukan…mereka mengatakan seperti itulah ikhlas, suatu perbuatan yang tidak diketahui oleh orang lain.
Pemahaman tersebut menurut hemat kami tidak sepenuhnya benar. Lihat saja, sebagian banyak syariat dalam agama ini terdiri dari amal-amal yang harus diketahui orang lain. Sholat berjamaah, ibadah haji, Tilawah Al qur’an, Puasa dengan segala ibadah pengirinya, semua merupakan amal-amal yang harus diketahui oleh orang lain. Jika kita mendefinisikan niat sebagai amal yang ketika melakukannya tidak perlu diketahui orang lain, bagaimana syariat sholat berjamaah, ibadah haji, tilawah, dan juga puasa dapat ditegakan?
Pada sebuah peristiwa peperangan, Rosul pernah memobilisasi para sahabat untuk mengeluarkan hartanya demi kepentingan perang. Umar bin khotob datang lalu menyerahkan 2/3 hartanya kepada rosul, selang beberapa waktu Abu Bakar datang dan mengatakan “Ya rosul…ini saya infakkan seluruh harta saya untuk kepentingan jihad fii sabilillah ini”..hingga akhirnya umar berkomentar, “Saya tidak pernah bisa menandingi Abu bakar dalam urusan ini”.
Lihatlah fragmen sejarah para sahabat tersebut, kalau keikhlasan dipahami sebagai amal yang tidak perlu diketahui orang lain, maka apakah kita akan mengatakan bahwa para sahabat paling mulia tersebut beramal dengan amal yang tidak ikhlas karena amalnya diumumkan? Tentu saja tuduhan seperti itu merupakan tuduhan yang sangat ngawur.
Menampakan amal atau menyembunyikannya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan ikhlas atau tidaknya suatu amal. Karena penentu ikhlasnya amal berada di dalam hati yang paling dalam.
Bisa saja orang beramal secara sembunyi-sembunyi, namun hatinya tidak ikhlas karena Allah, maka amal tersebut ditolak. Sebagai contoh seseorang mahasiswa yang tinggal di sebuah kontrakan bangun di malam hari dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui teman-teman yang lain, ke kamar mandi untuk berwudu dengan sangat pelan supaya tidak didengar orang lain, sholat malam sendirian tanpa ada yang mengetahui. Namun pada saat sholat, hati kecilnya mengatakan…”Masya Allah…begitu banyak orang yang tinggal di kontrakan ini…tapi hanya saya yang bangun malam untuk qiyamulail”. Amal yang sudah diupayakan begitu tersembunyi, tidak ada orang lain yang tahu, namun ternyata hatinya bisa saja tidak ikhlas. Muncul rasa ujub dan sebagainya.
Hadirin yang dimuliakan Allah Swt,
2. Amal yang mengikuti tuntunan Nabi
Syarat kedua agar amal diterima adalah amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Nabi Saw. Sebagaimana sabda nabi :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Sholatlah kamu, sebagaimana kalian melihat aku sholat (Al Hadits)
Sebagaimana syarat pertama, syarat kedua ini juga merupakan syarat mutlak bagi diterimanya suatu amal. Dalam konteks ini, maka ada kewajiban yang harus kita kerjakan agar amal kita sesuai dengan tuntunan. Kewajiban tersebut adalah : kewajiban menuntut ilmu. Wajib bagi semua muslim untuk belajar dasar-dasar agama, terutama yang terkait masalah fikih ibadah, agar amal yang kita laksanakan bersesuain dengan tuntunan Nabi. Kita harus menjadi pembelajar seumur hidup untuk mengetahui bagaimana nabi beribadah. Dengan demikian maka insya Allah pada saatnya nanti kita akan dikaruniai serangkaian ilmu yang dapat menuntun kita untuk beribadah sebagaimana nabi beribadah.

Kamis, 17 Januari 2013

Kenapa Sulit Untuk Berubah?

Posted by Agustiawan On 17.03 No comments

Sudah lama rasanya tidak menulis di blog ini lagi. Kesibukan? Wah terlalu klasik rasanya kalau mengatakan kesibukan yang tinggi sebagai alasannya. Tapi memang begitulah adanya. Akhir tahun 2012 hingga awal 2013, hampir setiap pekan ada saja kegiatan yang butuh perhatian ekstra. Tapi tentu saja berkat pertolongan Allah SWT, semua itu dapat dilaksanakan dengan lancar. Meskipun terdapat hal-hal yang masih jauh dari kesempurnaan, tapi cukuplah untuk memperkaya pengalaman diri agar di kemudian hari dapat menjadi pelajaran berharga. Namun ketika pelajaran berharga ini tidak dapat merubah apa yang kita lakukan, tentu saja hal ini harus menjadi tanda tanya besar dalam diri, mengapa perubahan itu tak kunjung tiba?

Mungkin sudah banyak artikel, ebook, buku, atau seminar yang kita ikuti. Tetapi, kenapa sulit berubah? Kebanyakan produk pendidikan berupa "how to" atau cara melakukan sesuatu. Kenapa para penulis atau author suka menulis panduan seperti ini? Sebab itu yang diinginkan oleh pasar. Mereka menulis untuk pasar.
Salah? Tidak. Hanya saja kurang lengkap.

Anda memang tidak akan sukses tanpa tindakan. Tetapi tidak semua tindakan akan membawa sukses. Harus tindakan tertentu yang benar. Tindakan seperti apa? Tindakan yang berawal dari mindset yang benar. Semua tindakan Anda berawal dari pikiran. Bagaimana pun Anda belajar bertindak, tetapi mindsetnya salah, maka tindakan tersebut tidak akan membawa hasil yang optimal.

Sukses itu berasal dari mindset yang benar dan tindakan. Bukan tindakan saja. Tetapi jika mindset Anda sudah benar, Anda akan bertindak dengan benar pula. So, yuk mari kita luruskan pemikiran kita agar segala tindakan kita akan menjadi benar dan seluruh sudut pandang kita pun akan menggunakan kaca mata yang benar.

Wallahu a'lam